LAPORAN WORKSHOP
MATEMATIKA
“PENGGUNAAN MEDIA KOMIK
STRIP DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI PECAHAN”
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Proses pembelajaran merupakan suatu
kegiatan untuk melaksanakan kurikulum sutu lembaga pendidikan, agar dapat
mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam
proses pembelajaran terdapat proses belajar mengajar. Definisi belajar adalah
serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya
yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor (Djamarah 2002). Pengertian
mengajar adalah suatu usaha menciptakan kondisi atau system lingkungan yang mendukung
dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar (Sudirman 2005).
Berdasarkan pengertian belajar dan mengajar di atas maka proses belajar
mengajar maka proses belajar mengajar merupakan interaksi antara siswa dengan
guru dalam melaksanakan kurikulum pada suatu lembaga yang siswanya melakukan
kegiatan belajar dan guru melakukan kegiatan mengajar.
Pada hakikatnya proses pembelajaran
merupakan suatu proses komunikasi yaitu proses penyampaian pesan dari sumber
pesan ke penerima pesan. Pesan yang dikomunikasikan adalah isi pelajaran atau
pendidikan yang ada dalam kurikulum. Komunikasi dalam suatu proses pembelajaran
hendaklah merupakan suatu komunikasi timbal balik atau komunikasi interaktif
yang bukan terjai dengan sendirinya akan tetapi haruslah diciptakan sedemikian
rua sehingga pesan yang disampaikan dalam bentuk materi pelajaran dapat
benar-benar efisien (berdaya guna dan tepat guna). Agar tidak terjadi kesalah
pahaman dalam proses komunikasi perlu digunakan sarana yang membantu proses
komunikasi yang disebut media.
Untuk memudahkan anak didik menerima
materi pelajaran perlu diusahaakan suatu alat bantu yang dapat diintegrasikan
pada seluruh kegiatan belajar mengajar. Hamalik (2004) mengemukakan bahwa
tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik bila ditunjang oleh berbagai
factor, antara lain media pendidikan. Media merupakan salah satu faktor yang
turut menentukan keberhasilan pembelajaran karena ia membantu siswa dan guru
dalam menyampaikan materi pelajaran. Pemakaian media pembelajaran dalam proses
belajar mengajar dapat menarik perhatian dan minat belajar siswa. Penggunaan
media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu
keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada
saat itu. Selain membangkitkan motivasi minat siswa, media pembelajaran juga
dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan
terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi (Arsyad 2007).
Berdasarkan wawancara dengan guru mata
pelajaran didapatkan hasil bahwa hasil belajar pelajaran matematika masih
kurang, hal ini terlihat dari ketuntasan belajar. Ini disebabkan karena minat
belajar siswa sangat rendah, siswa hanya mengandalkan LKS, tidak mempunyai buku
paket pribadi dan hanya beberapa siswa saja yang meminjam buku paket sekolah.
Usia sekolah dasar merupakan usia
anak-anak, lebih menyukai bahan bacaan yang di dalamnya terdapat cerita
bergambar dengan warna-warna menarik dan bersifat menghibur dari pada membaca
bacaan buku yang bersifat verbal. Penggunaan media yang tepat akan meningkatkan
hasil belajar dan membuat proses belajar mengajar menjadi menarik dan
menyenangkan. Di sisi lain penggunaan media juga menguntungkan, karena cara
belajar setiap siswa berbeda. Ada siswa yang tidak mengalami kesulitan memahami
keterangan yang disajikan dalam bentuk rangkaian kata-kata. Ada pula keterangan
verbal bagi siswa hanya memberikan gambaran yang samar-samar. Media komik strip
diharapkan lenih menarik dan menghibur sehingga siswa lebih perhatian dalam
pembelajaran mata pelajaran matematika.
Pembelajaran materi pecahan yang dilakukan
sebelumnya menggunakan LKS untuk mengajarkan tanpa menggunakan media sehingga
siswa kurang tertarik untuk belajar. Berdasarkan penelaah LKS didapatkan hasil
bahwa materi yang ada di dalam LKS tidak menarik dan hanya berupa rangkaian
kata-kata verbal tanpa disertai gambar. Materi pecahan mungkin memerlukan
penjelasan melalui gambar yang menunjukan kehidupan sehari-hari. Melalui
penggunaan media komik strip dalam materi pecahan diharapkan dapat mempertinggi
kualitas proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas
hasil belajar siswa. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media
komik strip merupakan jenis media grafis, media yang unsure utamanya berupa
tulisan atau gambar yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke
penerima pesan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apa saja proses-proses dalam
membuat metode pembelajaran matematika khususnya materi pecahan menggunakan
media komik strip pada siswa kelas IV SD?”
C.
Tujuan
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk
mengetahui proses-proses dalam membuat metode pembelaaran matematika khususnya
materi pecahan menggunakan media komik strip pada siswa kelas IV SD.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Matematika
Matematika (dari bahasa Yunani: mathēma, “pengetahuan, pemikiran,
pembelajaran”) adalah ilmu yang mempelajari hal-hal seperti besaran, struktur,
ruang dan perubahan. Para matematikawan merangkai dan menggunakan berbagai
pola, dan menggunakannya untuk merumuskan konjektur baru dan membangun
kebenaran melalui metode deduksi yang ketat diturunkan dari aksioma-aksioma dan
definisi-definisi yang bersesuaian.
Melalui penggunaan penalaran logika dan
abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan
pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika.
Matematika praktis mewujud dalam kegiatan manusia sejak adanya rekaman
tertulis. Argumentasi matematika yang ketat pertama muncul di dalam matematika
Yunani, terutama di dalam karya Euklides, Elemen. Matematika selalu berkembang,
misalnya di Tiongkok pada tahun 300 SM, di India pada tahun 100 M, dan di Arab
pada tahun 800 M, hingga zaman renaisans, ketika temuan baru matematika
berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru yang mengarah pada peningkatan yang
cepat di dalam laju penemuan matematika yang berlanjut kingga kini.
Kini, matematika digunakan di seluruh
dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik,
kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi dan psikologi. Matematika
terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke
bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika
baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang
sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan.
Para matematikawan juga bergulat di dalam
matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika itu sendiri.
Mereka berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya,
walaupun belum diketahui penerapannya. Namun, kenyataannya banyak sekali
gagasan matematika yang sangat abstrak dan tadinya tak diketahui relevansinya
dengan kehidupan, mendadak ditemukan penerapannya. Pengembangan matematika
(murni) dapat mendahului atau didahului kebutuhannya dalam kehidupan. Penerapan
praktis gagasan matematika yang menjadi latar munculnya matematika murni
seringkali ditemukan kemudian.
B.
Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Matematika merupakan alat untuk memberikan
cara brpikir, menyusun pemikiran yang jelas, tepat, dan teliti. Hudojo (2005)
menyatakan, matematika sebagai suatu objek abstrak, tentu saja sangat sulit
dapat dicerna anak-anak sekolah dasar (SD) yang mereka oleh Piaget,
diklasifikasikan masih dalam tahap operasi konkret. Siswa SD belum mampu untuk
berpikir formal maka dalam pembelajaran matematika sangat diharapkan bagi para
pendidik mengaitkan proses belajar mengajar di SD dengan benda konkret.
Heruman (2008) menyatakan dalam
pembelajaran matematika SD, diharapkan terjadi reinvention (penemuan kembali). Penemuan kembali adalah menemukan
suatu cara penyelesaian secara informal dalam pembelajaran di kelas.
Selanjutnya Heruman menambahkan bahwa dalam pembelajaran matematika harus
terdapat keterkaitan antara pengalaman belajar siswa sebelumnya dengan konsep
yang akan diajarkan. Sehingga diharapkan pembelajaran yang terjadi merupakan
pembelajaran menjadi lebih bermakna (meaningful), siswa tidak hanya belajar untuk
mengetahui sesuatu (learning to know
about), tetapi juga belajar melakukan (learning
to do), belajar menjiwai (learning to
be), dan belajar bagaimana seharusnya belajar (learning to learn), serta bagaimana bersosialisasi dengan sesame
teman (learning to live together).
Siswa sekolah dasar (SD) berada pada umur
yang berkisar antara usia 7 hingga 12 tahun, pada tahap ini siswa masih
berpikir pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak dalam fase ini
adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah
logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret (Heruman,
2008). Siswa SD masih terikat dengan objek yang ditangkap dengan panca indra,
sehingga sangat diharapkan dalam pembelajaran matematika yang bersifat abstrak,
peserta didik lebih banyak menggunakan media sebagai alat bantu, dan penggunaan
alat peraga. Karena dengan penggunaan alat peraga dapat memperjelas apa yang
disampaikan oleh guru, sehingga siswa lebih cepat memahaminya.
Pembelajaran matematika di SD tidak
terlepas dari dua hal yaitu hakikat matematika itu sendiri dan hakikat dari
anak didik di SD. Suwangsih dan Tiurlina (2006) menyatakan ciri-ciri
pembelajaran matematika SD yaitu:
1)
Pembelajaran
matematika menggunakan metode spiral,
Pendekatan
spiral dalam pembelajaran matematika merupakan pendekatan dimana pembelajaran
konsep atau suatu topik matematika selalu mengaitkan atau menghubungkan dengan
topik sebelumnya, topik sebelumnya merupakan prasyarat untuk topik baru, topik
baru merupakan pendalaman dan perluasan dari topic sebelumnya. Konsep yang
diberikan dimulai dengan benda-benda konkret kemudian konsep itu diajarkan
kembali dengan bentuk pemahaman yang lebih abstrak dengan menggunakan notasi
yang lebih umum digunakan dalam matematika.
2)
Pembelajaran
matematika bertahap,
Materi
pelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep-konsep
yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit, selain pembelajaran matematika
dimulai dari yang konkret, ke semi konkret, dan akhirnya kepada konsep abstrak.
3)
Pembelajaran
matematika menggunakan metode induktif,
Matematika
merupakan ilmu deduktif. Namuk karena sesuai tahap perkembangan siswa maka pada
pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif.
4)
Pembelajaran
matematika menganut kebenaran konsistensi,
Kebenaran
matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya pertentangan antara
kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap
benar jika didasarkan kepada pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah
diterima kebenarannya. Meskipun di SD pembelajaran matematika dilakukan dengan
cara induktif tetapi pada jenjang selanjutnya generalisasi suatu konsep harus
secara deduktif.
5)
Pembelajaran
matematika hendaknya bermakna,
Pembelajaran
matematika secara bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yang
mengutamakan pengertian dari pada hafalan. Dalam belajar bermakna
aturan-aturan, dalil-dalil tidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya
aturan-aturan, dalil-dalil ditemukan oleh siswa melalui contoh-contoh secara
induktif di SD, kemudian dibuktikan secara deduktif pada jenjang selanjutnya.
Tentunya dalam mengajarkan matematika di
sekolah dasar tidak semudah dengan apa yang kita bayangkan, selain siswa yang
pola pikirnya masih pada fase operasional konkret, juga kemampuan siswa juga
sangat beragam. Hudojo (2005) menyatakan ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam mengajarkan matematika di tingkat sekolah dasar, yaitu
sebagai berikut:
1.
Siswa,
Mengajar
matematika untuk sebagian besar kelompok siswa berkemampuan sedang akan berbeda
dengan mengajarkan matematika kepada sekolompok kecil anak-anak cerdas,
sekelompok besar siswa tersebut perlu diperkenalkan matematika sebagai suatu
aktivitas manusia, dekat dengan penggunaan sehari-hari yang diatur secara kreatif
(oleh guru) agar kegiatan tersebut disesuaikan dengan topik matematika. Untuk
siswa yang cerdas, mereka akan mudah mengasimilasi dan mengakomodasi teori
matematika dan masalah-msalah yang tertera dalam buku teks.
2.
Guru,
Ada dua orientasi
guru dalam mengajar matematika di SD, sebagai berikut:
a)
Keinginan
guru mengarah ke kelas sebagai keseluruhan dan sedikit perhatian individu siswa
baik reaksinya maupun kepribadian. Biasanya mereka membatasi dirinya ke materi
matematika yang distrukturkan ke logika matematika. Mengajar matematika berarti
mentranslasikan sedekat-dekatnya ke teori matematika yang sama sekali
mengabaikan kesulitan yang dihadapi siswa.
b)
Guru
tidak terikat ketat dengan pola buku teks dalam mengajar matematika. Ia
mengajar matematika dengan melihat lingkungan sekitar bersama-sama dengan siswa
untuk mengeksplor lingkungan tersebut. Kegiatan matematika diatur
sedekat-dekatnya dengan lingkungan siswa sehingga siswa terbiasa terhadap
konsep-konsep matematika.
3.
Alat
bantu,
Mengajar
matematika di lingkungan SD, harus didahului dengan benda-benda konkret. Secara
bertahap dengan bekerja dan mengobservasi, siswa dengan sadar
menginterpretasikan pola matematika yang terdapat dalam benda konkret tersebut.
Model konsep seyogyanya dibentuk oleh siswa sendiri. Siswa menjadi “penemu”
kecil. Siswa akan merasa senang bila mereka “menemukan”.
4.
Proses
belajar,
Guru
seyogyanya menyusun materi matematika sedemikian hingga siswa dapat menjadi
lebih aktif sesuai dengan tahap perkembangan mental, agar siswa mempunyai
kesempatan maksimum untuk belajar.
5.
Matematika
yang disajikan,
Matematika
yang disajikan seyogyanya dalam bentuk bervariasi. Cara menyajikannya harus
dilandasi latar belakang yang realistic dari siswa. Dengan demikian aktivitas
matematika menjadi sesuai dengan lingkungan para siswa.
6.
Pengorganisasian
kelas,
Matemayika
seyogyanya disajikan secara terorganisasikan, baik antara aktivitas belajarnya
maupun didaktiknya. Bentuk pengorganisasian yang dimaksud antara lain adalah
laboraorium matematika, kelompok siswa yang heterogen kemampuannya, instruksi
langsung, diskusi kelas dan pengajaran individu. Semua itu bergantung kepada
situasi siswa yang pada dasarnya agar siswa belajar matematika.
Dengan memperhatikan ke enam hal di atas,
sangat diharapkan pembelajaran matematika menyenangkan bagi siswa dan
pembelajaran matematika menjadi efektif sehingga siswa tidak hanya mampu
menghafal konsep-konsep matematika, tetapi juga harus dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari, jadi sangat diharapkan dalam proses pembelajaran yang
dipraktekan guru juga melibatkan dan mengaktifkan siswa dalam proses menemukan
konsep-konsep matematika. Sehingga pembelajaran matematika di sekolah dasar
mampu mengembangkan kompetensi-kompetensi matematika seperti yang terdapat
dalam kurikulum matematika.
C.
Fungsi dan Macam Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan
merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara
atau penyalur. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi
belajar atau penyalur pesan (Djamarah dan Zain 1996). Media pengajaran menurut
Arsyad (2007) adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang
brtujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Sudjana dan
Rivai (2005) menyatakan bahwa media pengajaran sebagai alat bantu mengajar.
Untuk materi saling ketergantungan diperlukan suatu media pembelajaran sebagai
alat bantu mengajar, karena dalam materi pecahan mengandung obyek kajian yang
abstrak sehingga diperlukan suatu gambar untuk mengkonkretkan. Arsyad (2007)
menyatakan bahwa fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu
mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan belajar yang
ditata dan diciptakan oleh guru.
Menurut Encyclopedia of educational research sebagaimana dikutip oleh
Hamalik dalam Arsyad (2007) merincikan manfaat media pendidikan sebagai
berikut:
a.
Meletakan
dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme.
b.
Memperbesar
perhatian siswa.
c.
Meletakkan
dasar-dasar yang peting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat
pelajaran lebih mantap.
d.
Memberikan
pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan
siswa.
e.
Menumbuhkan
pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup.
f.
Membantu
timbulnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
g.
Memberikan
pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi
dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
Penggunaan media yang
sesuai tentunya akan memberikan pemahaman yang lebih baik bagi anak. Media
pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada
gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dapat dicapainya.
Ada beberapa alasan, mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar
siswa. Menurut Sudjana dan Rivai (2005) manfaat media pengajaran dalam proses
belajar siswa adalah sebagai berikut:
a.
Pengajaran
akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b.
Bahan
pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para
siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
c.
Metode
mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui
penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak
kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
d.
Siswa
lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian
guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan
dan lain-lain.
e.
Media
pengajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan
dengan taraf berpikir siswa.
Johana dan Widayanti (2007) menjelaskan
bahwa pemkaian media dalam proses pengajaran dan pembelajaran sangatlah penting.
Terdapat beberapa criteria dalam pemilihan materi untuk mencapai hasil yang
efektif. Kriteria tersebut antara lain:
1.
Menarik,
maksudnya media yang digunakan harus menarik bagi siswa.
2.
Memotivasi,
maksudnya media yang digunakan dapat memotivasi siswa untuk membaca.
3.
Relevan/sesuai,
maksudnya media yang digunakan harus relevan atau sesuai dengan topic yang
dibahas serta sesuai dengan usia siswa
D.
Media Komik Strip
Komik didefinisikan sebagai suatu bentuk
kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urtan yang
erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada
para pembaca (Sudjana 2005). Dalam anonim (1990), media komik diartikan sebagai
berikut: “komik berbentuk rangkaian gambar-gambar sedang dalam yang keseluruhannya
merupakan rentetan suatu cerita. Gambar-gambar itu dilengkapi balon-balon
ucapan, adakalanya masih disertai narasi sebagai penjelasan”.
Menurut Trimo (1997) dalam Handayani
(2005) media koik dapat dibedakan menjadi dua yaitu buku komik (comic book) dan komik strip (comic strip). Buku komik adalah komik
yang berbentuk buku, mempunyai cerita yang lebih panjang dan dapat langsung
selesai ataupun bersambung, sedangkan yang dimaksud komik strip adalah bentuk
komik yang terdiri dari beberapa lembar bingkai kolom yang dimuat dalam suatu
harian atau majalah, biasanya disambung ceritanya. Anonym (2008) menjelaskan
komik strip bentuknya adalah selembar atau beberapa lembaran terpisah (tidak
menjadi buku).
Tiedt (2000) dalam Hadi (2006) menyatakan
bahwa secara umum buku bergambar (komik) terdiri atas paduankata-kata (bahasa)
dan gambar. Bahasa dalam komik kebanyakan berisi berupa kalimat langsung.
Fungsi bahasanya tidak hanya untuk menjelaskan, melengkapkan, atau memperdalam
pengertian teksnya. Dibandingkan dengan kisah gambar, disini bahasa dan
gambarnya secara langsung saling terpadukan. Isi ceritanya disajikan melalui
penataan gambar-gambar tunggal dalam suatu urutan dan berhungan dengan
tema-tema yang universal sehingga anak-anak dapat memahaminya.
Membuat media komik strip menurut McCloud
(2008) mengikuti langkah-langkah berikut:
a.
Menentukan
momen (peristiwa) yang akan dimasukan dalam cerita.
b.
Memilih
bingkai yaitu memilih jarak dan sudut pandang yang tepat untuk momenyang telah
dipilih.
c.
Menggambar
karakter obyek dan lingkungan dengan jelas dalam bingkai tersebut.
d.
Menyusun
kata yang menambah info penting dan menyatu dengan cerita disekelilingnya.
e.
Membuat
alur yang menuntun pembaca mengikuti urutan dalam cerita.
Sudjana dan Rivai (2005) menyatakan bahwa
kelebihan media komik adalah menambah perbendaharaan kata-kata pembacanya,
menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajar siswa. Anonim (2008)
menjelaskan bahwa selain menarik perhatian komik juga mudah dicerna
dibandingkan dengan media tulisan saja, mudah dibawa dan disebarluaskan, serta
dapat digunakan untuk diskusi kelompok. Berdasarkan penelitian Radjah dkk
(2008) pada siswa SD dalam pembelajaran pendidikan kesehatan reproduksi
diperoleh hasil penilaian bahwa komik ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber
belajar bagi siswa. Sebanyak 96,2 % siswa menilai bahwa komik ini mudah
dipelajari, karena kata-katanya mudah dimengerti, gambarnya menarik serta
isinya dapat menambah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.
Johana dan Widayanti (2007) menjelaskan bahwa
guru dapat menggunakan komik dalam pengajaran bahasa yang komunikatif pada
siswa SMP. Ada beberapa alasan menggunakan komik sebagai media mengajarkan
keahlian membaca pada siswa SMP yaitu: (1). Banyak siswa yang sudah mengenal
komik. Siswa menganggap komik adalah bacaan yang menarik dan menyenangkan, (2).
Komik adalah jenis bacaan yang ringan dan mudah dipahami. Komik berisi gambar
dan percakapan singkat yang ditulis dalam bentuk bubbles. Kosa kata yang
digunakan adalah kosa kata yang sederhana dan dapat dipahami melalui
penggabungan antara gambar dan konteks kalimat. Oleh karena itu, siswa tidak
perlu membuang waktu mencari arti kata dengan membuka kamus, (3). Struktur
kalimat yang digunakan adalah struktur kalimat sederhana sehingga siswa dapat
memahami makna tiap-tiap kalimat.
Rota dan Izquiredo (2003) menyatakan “when we used comics as a way to present
scientific information, we are showing and teaching scientific concepts through
the channel of the adventure. The information, that usually would be rigid,
becomes agile, through illustrations and event that are familiar to the
imaginary of the children (fantastical trips, difficulties imposed to the
heroes…)”. Dalam jurnal tersebut menjelaskan bahwa komik dapat digunakan
untuk menyampaikan informasi ilmiah, pengajaran konsep ilmiah tersebut
disampaikan dalam bentuk cerita petualangan. Informasi yang biasanya sulit
dipahami menjadi mudah dipahami, dengan adanya gambar ilustrasi danperistiwa
yang sudah dikenal dalam khayalan anak-anak (perjalanan menyenangkan, pahlawan
yang mengagumkan…).
Rohani (1997) menyatakan bahwa kelemahan
media komik yaitu membuat siswa terlena dengan bacaan komik sehingga lupa
dengan buku bacaan pelajaran jika tidak mendapat bimbingan dari guru. Oleh
karena itu penggunaan media komik dalam proses pembelajaran diperlukan
bimbingan dari guru sehingga komik menjadi alat pengajaran yang efektif.
Melalui bimbingan dari guru, komik dapat berfungsi sebagai jembatan untuk
menumbuhkan minat baca.
Adapun argument yang menentang komik
menurut Hurlock (2000) dalam Hadi (2006) adalah: (1). Komik mengalihkan
perhatian anak dari bacaan lain yang lebih berguna, (2). Karena gambar
menerangkan cerita, anak kurang mampu membaca tidak berusaha membaca teks, (3).
Terdapat sedikit atau bahkan tidak ada kemajuan pengalaman membaca dalam komik,
(4). Lukisan, cerita, dan bahasa komik kebanyakan bermutu rendah, (5). Komik
menghambat anak melakukan bentuk bermain lainnya.
BAB
III
RISET
DAN PENGEMBANGAN
Yuan Andinny dan
Indah Lestari
Program
Studi Pendidikan Matematika
FTMIPA,
Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
e-mail:
yuanandinny15@gmail.com
Abstrak: Pembelajaran Multimedia terhadap
Hasil Belajar Matematika.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran multimedia terhadap hasil
belajar matematika peserta didik di SD Negeri Jatirangga II Bekasi pada materi
bangun ruang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasy eksperiment. Teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan pemberian tes setelah perlakuan untuk mengetahui
hasil belajar matematika peserta didik. Sampel yang diambil sebanyak 46 peserta
didik yang terdidi 23 peserta didik sebagai kelas eksperimen dan 23 peserta
didik sebagai kelas control. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Hasil
perhitungan uji normalitas data menggunakan uji Liliefors diperoleh
bahwa kedua data eksperimen dan control berdistribusi normal. Sedangkan hasil
dari uji homogenitas dengan uji Fisher
dari kedua kelompok eksperimen dan control diperoleh bahwa kedua data memiliki
varians yang sama. Uji hipotesis menggunakan uji t yang menghasilkan
.
Simpulan hasil penelitian terdapat pengaruh yang signifikan pembelajaran
multimedia terhadap hasil belajar matematika peserta didik di SD Negeri
Jatirangga II Bekasi pada materi bangun ruang.
Kata Kunci: Pembelajaran Multimedia,
Hasil Belajar Matematika.
BAB
IV
METODE
PENGEMBANGAN
MPI yang dikembangkan Atwi Suparman
sangat jelas dan sederhana sebagaimana tergambar berikut ini. Model adalah
sesuatu yang menggambarkan adanya pola berpikir. Sebuah model biasanya
menggambarkan keseluruhan konsep yang saling berkaitan. Dengan kata lain model
juga dapat dipandang sebagai upaya dan untuk mengkonkretkan sebuah teori
sekaligus juga merupakan sebuah analogi dan representasi dari variable-variabel
yang terdapat di dalam teori tersebut. Sedangkan menurut Robins, “A model is an abstraction of reality; a
simplified representation of some real-world phenomenon”. Maksud dari
definisi tersebut, meodel merupakan representasi dari beberapa fenomena yang
ada di dunia nyata. Definisi model juga diungkapkan oleh Miarso yaitu model
adalah representasi suatu proses dalam bentuk grafis dan/atau naratif, dengan
menunjukkan unsure-unsur utama serta strukturnya. Dalam hal ini dimungkinkan
penafsiran model naratif ke dalam bentuk grafis, atau sebaliknya. Jadi dari
definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa model merupakan suatu proses
pola pikir dan komponen-komponen yang terdapat di dalamnya, yang
direpresentasikan dalam bentuk grafis dan/atau naratif.
Dalam desain system pembelajaran, model
biasanya menggambarkan langkah-langkah atau prosedur yang perlu ditempuh untuk
menciptakan aktivitas pembeljaran yang efektif, efisien dan menarik. Jadi suatu
model dalam pengembangan pembelajaran adalah suatu proses yang sistematik dalam
desain, konstruksi, pemanfaatan, pengelolaan dan evaluasi system pembelajaran.
Berdasarkan pada pengertian pengembangan
pembelajaran, maka diperlukan sekurang-kurangnya lima criteria yang harus
dipenuhi dalam model pembelajaran yaitu: 1) Mempunyai tujuan; 2) Keserasian
dengan tujuan; 3) Sistematik; 4) Mempunyai kegiatan evaluasi; 5) Menyenangkan.
Oleh karena itu, system pembelajaran dapat diibaratkan sebagai proses produksi
yang terdiri dari bagian input-proses-output, yang saling terintegrasi.
Salah satu model pengembangan pembelajaran
adalah model pengembangan instruksional (MPI) yang dikembangkan oleh Atwi
Suparman, memberikan pedoman untuk mengembangkan pembelajaran, seperti dapat
dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 1. Model
Pengembangan Instruksional (Atwi Suparman)
Secara umum MPI menurut Atwi Suparman
terdiri dari tiga tahap yaitu tahap mengidentifikasi, tahap mengembangkan, dan
tahap mengevaluasi dan merevisi.
Pendekatan MPI dipilih karena pendekatan
ini dapat diterapkan baik pada pendidikan formal di sekolah atau perguruan
tinggi, maupun pendidikan non formal dan juga model ini cocok untuk
mengembangkan pembelajaran virtual pada pelajaran matematika melalui teori dan
praktek secara langsung.
Secara rinci tahap MPI dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi
Kebutuhan Instruksional dan Menulis Tujuan Instruksional Umum
Mengidenfikasi
kebutuhan instruksional adalah satu proses untuk: a) Menentukan kesenjangan
penampilan siswa yang disebabkan kekurangan kesempatan mendapatkan pendidikan
dan pelatihan pada masa lalu; b) Mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional
yang paling tepat; c) Menentukan populasi sasarann yang dapat mengikuti
kegiatan instruksional tersebut. Dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan
instruksional diperoleh jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak
pernah dipelajari atau belum dilakukan dengan baik oleh siswa. Jenis
pengetahuan, keterampilan, dan sikap tersebut masih bersifat umum atau garis
besar saja, yang merupakan hasil belajar yang diharapkan dikuasai siswa setelah
pembelajaran. Hasil belajar ini disebut tujuan instruksional umum (TIU), karena
sifatnya yang masih umum.
TIU
harus dirumuskan dalam kalimat dengan kata kerja dan operasional, yang
menunjukan kegiatan yang akan dilihat. Suatu kalimat yang mengungkapkan siswa
dapat menjelaskan atau menguraikan sesuatu lebih tepat digunakan daripada siswa
dapat mengerti, memahami, atau mengetahui sesuatu. Hal ini dimaksudkan agar
tujuan yang akan dicapai dapat diukur sejauh mana kemampuan siswa dalam proses
pembelajaran telah mencapai kompetensi atau belum.
2. Melakukan
Analisis Intruksional
Analisi
instruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus
yang tersusun secara logis dan sistemtis. Kegiatan tersebut dilakukan untuk
mengidentifikasi perilaku-perilaku yang khusus yang dapat menggambarkan
perilaku umum secara terperinci. Perilaku-perilaku khusus disusun sesuai dengan
kedudukannya, misalnya kedudukannya sebagai perilaku prasyarat, perilaku yang
menurut urutan gerakan fisik berlangsung lebih dulu, perilaku yang menurut
proses psikologi muncul lebih dulu atau secara kronologis terjadi dari awal.
Maksud
dari gambaran dilakukannya analisis intruksional adalah akan tersusun perilaku
khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Melalui tahap
perilaku-perilaku khusus tertentu, siswa akan mencapaiperilaku umum. Perilaku
khusus yang telah disusun secara sistematis menuju perilaku umum, pelaksana
jalan yang singkat yang harus dilalui siswa untuk mencapai tujuan yang lebih
baik.
3. Mengidentifikasi
Perilaku dan Karakteristik Siswa
Mengeidentifikasi
perilaku awal siswa dimaksudkan untuk mengetahui siapa kelompok sasaran,
populasi sasaran, serta sasaran didik dari kegiatan instruksional. Istilah
tersebut digunakan untuk menanyakan siswa yang mana atau siswa sekolah apa,
serta sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka miliki
sehingga dapat mengikuti pelajaran tersebut.
Langkah
selanjutnya mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan
keperluan pengembangan instruksional. Informasi yang dikumpulkan terbatas
kepada karakteristik mahasiswa yang ada manfaatnya dalam proses pengembangan
nstruksional. Misalnya minat siswa,
kemampuan siswa dalam membaca bahasa asing, atau informasi lain yang
berhubungan dengan pengembangan instruksional.
4. Menulis
Tujuan Intruksional Khusus
Tujuan
instruksional khusus (TIK) terjemahan dari specific instructional objective.
Literature asing menyebutkan pula sebagai objective atau enabling objective
untuk membedakannya dari general instructional objective, goal, atau terminal
objective, yang berarti tujuan instruksional umum (TIU) atau tujuan
instructional akhir. TIK dirumuskan dalam bentuk kata kerja yang dapat dilihat
oleh mata atau (observable). TIK merupakan satu-satunya dasar untuk menyususun
kisi-kisi teks, karena itu TIK harus mengandung unsure-unsur yang dapat
memberikan petunjuk kepada penyususn tes agar dapat mengembangkan tes yang
benar-benar dapat mengukur perilaku yang terdapat di dalamnya.
Unsure-unsur
dalam TIK dikenal dengan ABCD yang berasal dari kata sebagai berikut: A=
audience, B= behavior, C= Condition, dan D= degree. Audience adalah siswa yang
akan belajar, behavior adalah perilaku spesifik yang akan dimunculkan oleh
siswa setelah selesai proses belajarnya dalam pelajaran tersebut, condition
adalah kondisi atau batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang
digunakan siswa pada saat dites (bukan pada saat belajar), dan degree adalah
tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai perilaku tersebut.
5. Menulis
Tes Acuan Patokan
Tes
acuan patokan dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan setiap siswa
terhadap perilaku yang tercantum dalam TIK. Adapun langkah-langkah dalam
menyusun tes acuan patokan adalah sebagai berikut: a) Menentukan tujuan tes; b)
Membuat tabel spesifikasi untuk setiap tes yaitu daftar perilaku, bobot perilaku,
persentase jenis tes, dan jumlah butir tes; c) Menulis butir tes; d) Merakit
tes; e) Menulis petunjuk; f) Menulis kunci jawaban; g) Mengujicobakan tes; h)
Menganalisis hasil uji coba; i) merevisi tes.
6. Menyusun
Strategi Instruksional
Strategi
instruksional dalam menyampaikan materi atau isi pelajaran harus secara
sistematis, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa secara
efektif dan efisien. Dalam strategi instruksional terkandung empat pengertian
sebagai berikut: a) Urutan kegiatan instruksional, yaitu urutan kegiatan guru
dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa; b) Metode instruksional, yaitu
cara guru mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa agar terjadi proses
belajar secara efektif dan efesien; c) Media instruksional, yaitu peralatan dan
bahan instruksional yang digunakan guru dan siswa dalam kegiatan instruksional;
dan d) Waktu yang digunakan dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan
instruksional.
7. Mengembangkan
Bahan Instruksional
Mengembangkan
format media dalam pembelajaran virtual kadang-kadang tidak sesuai dalam
praktek, walaupun secara teori telah dilakukan dengan benar. Untuk itu
diperlukan kompromi untuk mendapatkan produk pembelajaran yang sesuai dengan
lingkungan belajar.
Tahapan
yang akan dicapai dalam mengembangkan bahan instruksional adalah sebagai
berikut: a) Menjelaskan factor yang mungkin menyebabkan perbaikan dalam
pemilihan media dan system penyampaian agar sesuai dengan kegiatan
instruksional; b) Menjelaskan dan menyebutkan paket dalan komponen
instruksional; c) Menjelaskan peran desainer dalam pengembangan materi dan
penyampaian kegiatan instruksional; d) Menjelaskan prosedur untuk mengembangkan
bahan instruksional yang sesuai dengan strategi instruksional; e) Membuat bahan
instruksional berdasarkan strategi instruksional.
8. Mendesain
dan Melaksanakan Evaluasi Formatif
Evaluasi
formatif bertujuan untuk menentukan apa yang harus ditingkatkan atau direvisi
agar produk lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, evaluasi formatif
sebagai proses menyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar
pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan kualitas produk atau program
instruksional. Tahapan evaluasi formatif adalah sebagai berikut: a) Revieu oleh
ahli bidang studi di luar tim pengembangan instruksional; b) Evaluasi satu-satu
(one-to-one evaluation); c) Evaluasi kelompok kecil; dan d) Uji coba lapangan.
Pelaksanaan evaluasi formatif belum menjamin terjadinya peningkatan kualitas produk instruksional, bila rekomendasi yang dihasilkan evaluasi tidak digunakan untuk merevisi produk instruksional yang dievaluasi. Revisi yang dihasilkan dapat dikelompokan dalam dalam tiga bidang besar, yaitu: a) Isi dari produk Instruksional; b) Kegiatan instruksional yang meliputi prosedur penggunaan bahan instruksional dan penyajian atau presentasi; dan c) Kualitas fisik bahan instruksional.
BAB
V
PEMBAHASAN
A.
Model Pengembangan
1.
Kebutuhan
Instruksional dan Tujuan Instruksional Umum
a.
Kebutuhan
Instruksional
Kebutuhan
instruksional yang dibutuhkan diantaranya adalah karakteristik umum siswa kelas
IV SD, sikap/perilaku siswa kelas IV SD saat menerima pelajaran matematika
khususnya materi pecahan, serta kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta
didik kelas IV SD. Keterangan-keterangan tersebut dapat diperoleh melalui hasil
wawancara secara langsung kepada beberapa orang terdekat yang langsung
menangani peserta didik kelas IV SD, yakni wali kelas, guru, orang tua dan
bahkan pengasuh anak. Dan juga keharusan dalam melibatkan siswa dalam proses
mengidentifikasi kebeutuhan ini sangat penting. Siswa yang dilibatkan ini,
haruslah siswa yang sudah paham terutama siswa yang aktif dan bisa memberikan
gambaran masalah yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan informasi secara konkret mengenai karakteristik peserta didik serta
kompetensi yang diharapkann dapat dicapai oleh peserta didik yang duduk di
kelas IV SD.
Dari
hasil wawancara tersebut banyak diantara narasumber mengatakan bahwa peserta didik
kelas IV SD memiliki karakteristik yang
aktif, memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, namun konsentrasi dan
penalaran yang masih kurang baik dalam menerima materi pelajaran dan juga siswa
baru mengenal sebatas nominal pecahan tetapi siswa belum bisa memvisualisasikan
ke dalam bentuk nyata di kehidupan sehari-hari. Siswa juga berpendapat bahwa
apa yang diperoleh dalam pembelajaran itu kurang berguna bagi mereka, penyajian
materi kurang menarik, dan materi sulit dipahami. Oleh karena itu sangat dibutuhkan
sebuah pembelajaran dengan penyampaian menarik. Selain itu, hasil observasi
ditemukan bahwa siswa kelas IV masih sangat menyukai hal-hal yang konkret
sedangkan matematika itu sendiri bersifat abstrak sehingga dalam penyampaian
materi sangat diperlukan metode-metode yang menarik dan disukai, mereka akan
sangat senang dan mudah menerima.
b.
Tujuan
Instruksional Umum
Mulanya
TIU disusun hanya satu untuk keseluruhan proses pembelajaran matematika SD
kelas IV. Namun setelah memperhatikan beberapa kompetensi-kompetensi yang
diharapkan serta sub bab yang ada pelajaran matematika SD kelas IV saat ini
sangat berbeda tema. Maka, dibuatlah beberapa TIU berdasarkan temanya.
Materi
yang dibahas kali ini adalah materi “Pecahan”. Oleh karena itu dirumuskan
tujuan instruksional umum,sebagai berikut:
Ø
Siswa
dapat mengerti dan memahami tentang materi pecahan senilai dan menyederhanakan
pecahan.
Ø
Siswa
dapat memahami visualisai pecahan dalam wujud benda nyata dalam kehidupan
sehari-hari.
Ø
Siswa
dapat menerapkan materi pecahan senilai dan menyederhanakan pecahan dalam
kehidupan sehari-hari.
2.
Analisis
Instruksional
Analisis
instruksional terdiri dari uraian kompetensi, uraian peta kompetensi, dan peta
kompetensi. Perumusan analisis instruksional merupakan penjabaran dari TIU yang
berisi butiran-butiran tahapan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik
kelas IV SD.
Pada
tahap ini pendesain merangkai langkah-langkah atau tahapan-tahapan pencapaian
kompetensi peserta didik kelas IV SD, mulai dari yang termudah hingga tersulit.
Tahapan-tahapan ini nantinya akan dimasukan dalam bahan pembelajaran yang akan
digunakan pada pembelajaran matematika kelas IV SD. Hasil dari analisis
instruksional adalah peta sub kompetensi atau peta kompetensi yang paling
tinggi seperti dirumuskan dalam TIU.
Dalam
proses pembuatan analisis instruksional, khususnya peta kompetensi sebaiknya
memperhatikan struktur-struktur kompetensi, yang terdiri dari struktur
hirarkis, struktur procedural, struktur pengelompokan, dan struktur kombinasi.
Gambar 2. Peta Kompetensi Pencapaian Hasil Belajar
KD 3.1
Menjelaskan
pecahan-pecahan senilai dengan gambar dan model konkret
KD 3.1.1
Menyebutkan
unsur-unsur pecahan
ü
Menyebutkan
unsur-unsur pecahan yaitu bahwa pecahan mempunyai dua unsure yaitu pembilang
yang terletak di atas tanda bagi dan penyebut yang terletak di bawah tanda
bagi.
KD 4.1
Mengidentifikasi
pecahan-pecahan senilai dengan gambar dan model konkret
KD 4.1.1
Menunjukan
bentuk pecahan dari satu gambar atau model konkret
ü
Menunjukan
bentuk pecahan dari satu gambar atau model konkret, misalnya menggunakan media
gambar.
3.
Perilaku
dan Karakteristik Siswa
Peneliti
mengamati perilaku peserta didik yang dapat dilihat dari
hasil analisis kebutuhan yang telah dilakukan pada awal kegiatan pengembangan
desain instrusional. Hasil dari analisis kebutuhan tersebut penulis merangkum
perilaku dan karakteristik siswa kelas IV SD sebagai berikut:
a) Anak
belajar melalui pengalaman-pengalaman langsung, khususnya melalui aktivitas
bermain.
b) Anak
senang dengan bermain atau suasana yang menyenangkan, misalnya bermain dengan
warna, gambar dan lain-lain.
c) Minat
terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
d) Hal-hal
bersifat konkret lebih mudah dipahami ketimbang yang abstrak.
e) Anak
mempunyai kesanggupan untuk memahami hubungan sebab akibat.
f) Apabila
tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
g) Setiap
anak sebagai seorang individu, masing-masing memiliki cara belajar yang unik.
4.
Tujuan
Instruksional Khusus
Tujuan
instrukasional khusus merupakan sebuah penjabaran dari TIU. Perumusan TIK ini
sangat tergantung pada TIU. Oleh karena itu, TIU harus dimatangkan secara isi.
Untuk proses penelitian ini pendesain menyusun tiga butir TIK yang
masing-masing TIK berkaitan dengan TIU yang telah dibuat sehingga mendapatkan
komposisi yang pas dan sesuai dengan hasil yang diharapkan, yakni sebagai
berikut:
a. Jika
diberikan tes mengenai menyebutkan unsur-unsur pecahan, maka siswa SD kelas IV
akan mampu menyebutkan kedua unsur pecahan secara jelas dan benar.
b. Jika
diberikan tes mengenai bentuk pecahan, maka siswa SD kelas IV akan mampu
menjawab contoh-contoh bentuk pecahan dalam ilustrasi kehidupan sehari-hari
dengan benar.
c. Jika
diberikan tes mengenai pecahan senilai, maka siswa SD kelas IV akan mampu
menyebutkan contoh pecahan-pecahan yang senilai dalam bentuk benda-benda dalam
kehidupan sehari-hari.
5.
Tes
Acuan Patokan
Tes acuan patokan
atau rancangan instrument penilaian dibuat oleh pendesaian berupa butir-butir
soal yang akan diujikan pada proses akhir pembelajaran. Butir-butir soal yang
dibuat mengacu pada tabel spesifikasi tes yang komprehensif. Tabel strategi
yang dibuat memperhatikan TIU dan TIK yang telah dibuat sebelumnya. Tabel
spesifikasi ini juga memuat indicator-indikator pencapaian siswa dalam
pembelajaran matematika SD kelas IV.
|
Tujuan
Instruksional |
Tes
Objektif |
Uraian
Materi |
Indikator
Soal |
Bentuk Soal |
||
|
PG |
Esay |
Kinerja |
||||
|
Menyebutkan unsur-unsur pecahan |
|
Unsur-unsur pecahan |
·
Menentukan mana
pembilang dari suatu pecahan ·
Menentukan mana
penyebut dari suatu pecahan |
X
|
X |
|
|
Menunjukan bentuk pecahan dari gambar
atau benda konkret |
|
Pecahan dalam kehidupan sehari-hari |
·
Menentukan pecahan
berapa dari gambar yang dilihat ·
Menentukan pecahan yang
senilai |
X |
X |
|
Tabel 1. Format Tabel Spesifikasi Tes yang
Komprehensif
Soal pecahan & pecahan
senilai :
5.1.Pilihan
Ganda
1.
Pada pecahan, bilangan
yang berada di atas dinamakan …
a.
Pembilang
b.
Penyebut
c.
Pembagi
d.
Pemfaktor
2.
Pada pecahan, bilangan
yang berada di bawah dinamakan …
a.
Pembilang
b.
Penyebut
c.
Pembagi
d.
pemfaktor
3.
Pecahan
dibaca …
a.
Satu delapan
b.
Satu per delapan
c.
Delapan per satu
d.
Delapan Satu
4.
Pecahan lima per Sembilan
ditulis …
a.
![]()
b.
![]()
c.
![]()
d.
![]()
5.
Perhatikan gambar
berikut, bagian yang diberi warna kuning tersebut bernilai …
a.
![]()
b.
![]()
c.
![]()
d.
![]()
6.
Perhatikan gambar
berikut, bagian yang diberi warna merah tersebut bernilai …
a. ![]()
b.
![]()
c.
![]()
d.
![]()
7.
Bentuk pecahan yang
senilai dengan
adalah …
a.
![]()
b.
![]()
c.
![]()
d.
![]()
8.
Pecahan
senilai dengan pecahan …
a.
![]()
b.
![]()
c.
![]()
d.
![]()
9.
Pecahan di bawah ini yang
tidak senilai dengan
adalah …
a.
![]()
b.
![]()
c.
![]()
d.
![]()
10.
Pecahan yang senilai
dengan
adalah …
a.
![]()
b.
![]()
c.
![]()
d.
![]()
5.2. Esay
1.
Pecahan enam belas per
tujuh belas ditulis …
2.
Satu bambu dipotong
menjadi 5 bagian sama panjang. Setiap bagian dari bambu itu nilainya …
3.
Perhatikan gambar
berikut!
Gambar
di atas menunjukan pecahan …
4.
Isikan sebuah bilangan
dalam tanda kotak untuk menentukan pecahan senilai dengan ruas kiri!
a.
=
b.
= ![]()
5. Tuliskan
dua pecahan yang senilai dengan
!
Kunci
jawaban pecahan & pecahan senilai:
Ø Pilihan
Ganda
1.
A
2.
B
3.
B
4.
C
5.
D
6.
D
7.
C
8.
A
9.
B
10.
B
Ø Esay
1.
![]()
2.
![]()
3.
![]()
4.
a.
=
b.
= ![]()
5.
dan ![]()
6.
Strategi
Instruksional
Strategi
pembelajaran ini perlu dipersiapkan agar pembelajaran dapat berjalan secara
focus dan terarah pada pencapaian kompetensi-kompetensi peserta didik. Isi
pembelajaran untuk tujuan instruksional khusus yang telah dirancang sebelumnya
bersama komponen lain seperti langkah-langkah kegiatan instruksional, metode,
serta media dan alat instruksional akan tergambar dalam strategi instruksional.
Dengan kata lain, daftar isi pembelajaran akan dibuat pendesain instruksional
pada saat menyusun strategi instruksional ini.
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah :
SDI Balauring
Mata Pelajaran :
Matematika
Kelas/Semester :
IV/I
Materi Pokok :
Pecahan
Alokasi Waktu : 2 x
30 menit
A. Kompetensi Inti
1. Menjelaskan pecahan-pecahan senilai dengan gambar dan model konkret
2. Mengidentifikasi pecahan-pecahan senilai
dengan gambar dan model konkret
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
1. Menyebutkan unsur-unsur pecahan (KD pada K3-1)
Indikator:
Menyebutkan unsure-unsur pecahan yaitu bahwa pecahan mempunyai dua unsur yaitu
pembilang dan penyebut *)
2. Menunjukan bentuk pecahan dari satu gambar
atau model konkret (KD pada K4-1)
Indikator:
Menunjukan bentuk pecahan senilai dari
satu gambar atau model konkret *)
C. Tujuan Pembelajaran
Ø Siswa dapat mengerti dan memahami tentang
materi pecahan senilai dan menyederhanakan pecahan.
Ø Siswa dapat memahami visualisai pecahan
dalam wujud benda nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ø Siswa dapat menerapkan materi pecahan
senilai dan menyederhanakan pecahan dalam kehidupan sehari-hari.
D. Materi Pembelajaran
1. Pengertian Pecahan
a. Bilangan Pecahan
Pecahan adalah bilangan berbentuk
, dengan b tidak sama dengan 0.
Pada bentuk
pecahan
dibaca a
per b
a dan b
bilangan bulat
a disebut
pembilang
b disebut
penyebut.
Contoh:
·
dibaca
satu per dua atau setengah
·
dibaca
satu per empat atau seperempat
·
dibaca
dua per tiga
b. Model Pecahan
· Gambar (1)
Banyaknya bagian adalah 2, diwarnai 1 dari 2.
Masing-masing bagian adalah
.
Bagian yang diwarnai adalah
.
· Gambar (2)
Banyaknya bagian adalah 4, tiap bagian adalah
.
Diwarnai 2 dari 4 bagian.
Bagian yang diwarnai adalah
.
· Gambar (3)
Banyaknya bagian adalah 8, tiap bagian adalah
.
Diwarnai 4 dari 8 bagian.
Bagian yang diwarnai adalah
.
2. Pecahan
Senilai
Pecahan
senilai adalah pecahan-pecahan yang nilainya sama.
Contoh:
Pecahan yang senilai dengan
adalah …
Jawab:
Pada
pecahan
, pembilang dan penyebutnya dikalikan dengan
bilangan yang sama:
Dikalikan
dengan 2:
x
=
.
Dikalikan
dengan 3:
x
=
.
Dikalikan
dengan 4:
x
=
.
Jadi,
pecahan yang senilai dengan
adalah :
,
,
, …
E. Pendekatan, Model dan Metode Pembelajaran
Menggunakan pendekatan realistic, dimana
dalam praktek pembelajaran matematika di kelas, pendekatan realistic sangat
memperhatikan aspek-aspek informal kemudian mencari jembatan untuk mengantarkan
pemahaman siswa pada matematika formal. Model pembelajaran yang digunakan
adalah model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dimana guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai bagian dari masyarakat. Metode
pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah dan metode Tanya Jawab.
F. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
1. Media
: Komik Strip
2. Alat/Bahan
: Buku Tulis, Pensil/pulpen
3. Sumber
Belajar: Buku pelajaran Matematika Kelas IV SD, Komik Strip.
G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a. Pendahuluan/Kegiatan Awal (5 menit)
ü Deskripsi singkat isi
ü Relevansi dan manfaat
ü Tujuan instruksional khusus
b. Kegiatan Inti (45 menit)
ü Uraian materi
ü Contoh soal dari materi
ü Latihan soal
c. Penutup (10 menit)
ü Tes formatif dan umpan balik
ü Tindak lanjut: penjelasan kembali dan penugasan
H. Penilaian
1. Teknik penilaian: tes lisan, tes tertulis
dan penugasan
2. Bentuk instrumen: tes dan non-tes
Mengetahui Guru Mata Pelajaran
Kepala SDI
Balauring
Martina Ose, S.Pd. __________________
NIP. 196712311987122021 NIP. ….
7.
Bahan
Instruksional
Bahan pembelajaran
merupakan sebuah produk yang akan dihasilkan dari proses pengembangan desain
pembelajaran matematika sekolah dasar kelas IV khususnya materi “Pecahan”.
Bahan isntruksional inilah yang isinya memuat materi-materi dan kegiatan
lainnya berupa latihan-latihan sebagai penunjang untuk tercapainya
kompetensi-kompetensi peserta didik. Dari segi desain atau tampilan bahan ,
penulis membuat semenarik mungkin dengan penggunaan tema atau background
berwarna serta disertai gambar-gambar menarik. Hal ini bertujuan agar peserta
didik tidak merasa bosan dan jenuh saat proses pembelajaran berlangsung.
Gambar
. Bahan Ajar Matematika SD Kelas IV
Gambar
4. Komik Strip Pecahan
8.
Evaluasi
Formatif
Evaluasi
formatif bertujuan untuk menentukan apa yang harus ditingkatkan atau direvisi
agar produk lebih sistematis, efektif dan efisien. Kualitas bahan instruksional
Matematika SD kelas IV materi “Pecahan didasarkan pada penilaian evaluasi
formatif yaitu salah satu guru matematika, guru kelas IV SD yang mengajar
matematika.
Dari
proses hasil evaluasi,ditemukan hal-hal sebagai berikut:
·
Materi
dan isi sudah tepat dan relevan dengan kurikulum
·
Materi
sudah sesuai dengan pengembangan pembelajaran matematika
·
Cakupan
materi sudah mewakili ketercakupan tujuan (KD dan indicator)
·
Materi
dan konsep jelas
·
Urutan
materinya jelas
·
Materi
dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis
·
Pemberian
motivasi belajar menarik
·
Contoh-contoh
dalam menjelaskan konsep realistis
·
Materi
mengandung informasi kekinian
Oleh karena itu,
program ini dinyatakan layak diproduksi tanpa revisi.
B.
Desain Produk
1.
Pra
Produksi
Adapun
tahapan pertama dalam membuat komik strip ini adalah menyiapkan alat/bahan
misalnya: pulpen, kertas kosong, buku pelajaran matematika kelas IV SD, setelah
itu dibuatlah sketsa yang berisi gambaran karakter, alur cerita dan juga materi
yang dibahas.
Gambar 4. Sketsa Komik Strip
Setelah membuat sketsa, penulis memilih
karakter yang dipilih dan mengunduh gambar-gambar yang diperlukan dan tahap
terakhir adalah membuat komik dengan bantuan aplikasi Bannkground Eraser,
PicsArt dan PhotoGrid.
2.
Produksi
Setelah
melewati proses pengeditan komik dalam beberapa hari dan proses penyempurnaan
melalui evaluasi bersama Guru Matematika kelas IV SD maka dihasilkan komik
strip yang siap digunakan sebagai berikut:
Gambar 5. Hasil Akhir Komik Strip
BAB VI
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Komik adalah salah satu media yang
menyampaikan cerita melalui ilustrasi gambar, gambar berfungsi sebagai
pendeskripsian cerita. Dengan karakter siswa kelas IV SD yang senang bermain
dengan warna dan gambar dan hanya mampu melakukan aktivitas logis dalam situasi
yang konkret atau dengan kata lain tidak dapat berpikir abstrak, maka media
komik strip ini sangat membantu dalam proses pembelajaran.
Kelebihan komik yaitu dapat menumbuhkan
minat baca, belajar membaca, berhitung, dan menjadi motivas anak dalam belajar
karena materiyang disajikan dikemas semenarik mungkin.
B.
Saran
Adapun saran-saran yang dapat
diberikan yaitu sebagai berikut:
1) Guru,
hendaknya menggunakan media komik strip sebagai salah satu media alternative
dalam pembelajaran matematika dimana semua materinya dalam bentuk benda
abstrak.
2) Sekolah,
dapat memanfaatkan media komik sebagai penunjang pembelajaran.
3) Peneliti
lain, dapat menindaklanjuti dalam penelitian pengembangan dan eksperimental
media yang sejenis pada materi-materi pembelajaran yang relevan agar ditemukan
sumber belajar yang lebih variatif, menarik dan memudahkan siswa dalam belajar.
4) Lembaga
PGSD, dapat digunakan sebagai informasi atau bahan kajian mahasiswa lain
jurusan PGSD yang melakukan penelitian sejenis.
DAFTAR
PUSTAKA
Andinny, Yuan dan Indah Lestari.
2016. Pembelajaran Multimedia terhadap
Hasil Belajar Matematika. Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI
Evany, Gita. “Karakteristik Anak Kelas IV SD”. Prezi (07 September 2016). https:
//prezi.com. (20/11/2018)
Gunarta.
“Strip Komik”. Wikipedia (23 November
2018). https://id.m.wikipedia.org.
(20/11/2018).
Hasbullah
dan Yogi Wiratomo. 2015. Metode, Model,
dan Pengembangan Model Pembelajaran
Matematika. Jakarta: Unindra Press
Karim,
Asrul. “Pembelajaran Matematika di
Sekolah Dasar SD”. Matematika Kreatif (September 2013). Asrulkarimpgsd.blogspot.com.
(20/11/2018)
Mimihitam.
“Matematika”. Wikipedia (21 November
2018). https://id.m.wikipedia.org.
(20/11/2018)
Nasirudin,
Muhamad. “Karakteristik Siswa Kelas IV
SD”. Berbagi Ilmu (10 April 2012). Nhasyier.blogspot.com. (20/11/2018)
Prastya, Ilham. “Pengertian Komik Menurut Para Ahli, Ciri-ciri Komik dan Jenis-jenis
Komik” (September 2018). www.ayoksinau.com.
(20/11/2018)










Komentar
Posting Komentar